Selasa, 22 Februari 2011

biografi KH. Abdurrakhman Wahid



Innalillahi wainna ilaihi rojiun.

Mantan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dipastikan meninggal dunia Rabu 30 Desember 2009 pukul 18.45 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Gus Dur dirawat di Ruang VVIP Nomor 116 Gedung A RSCM setelah sebelumnya menjalani perawatan medis di RS Jombang Jawa Timur, pada Kamis (24/12/2009), karena kelelahan setelah melakukan ziarah dan kunjungan ke beberapa pondok pesantren di Jawa Timur.

Selamat jalan putera terbaik umat dan bangsa. Jasamu akan dikenang di negeri ini.  Semoga amal dan ibadahnya diterima Allah SWT serta diampuni segala kesalahan dan dosanya. Semoga diberi kemurahan dan ridlo-Nya. Semoga Allah menempatkannya di Jannah, Insya Allah…  amien.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa’aafihi wa’fu ‘anhu, wa akrim nuzulahu wawassi’ madkholahu wa a’idzhu min adzaabil qobri wa ‘adzaabinnaar wa adkhilhuljannata ma’al abror… amien

.

Biografi Gus Dur



Latar Belakang Keluarga

Abdurrahman “Addakhil”, demikian nama lengkapnya. Secara leksikal, “Addakhil” berarti “Sang Penakluk”, sebuah nama yang diambil Wahid Hasyim, orang tuanya, dari seorang perintis Dinasti Umayyah yang telah menancapkan tonggak kejayaan Islam di Spanyol. Belakangan kata “Addakhil” tidak cukup dikenal dan diganti nama “Wahid”, Abdurrahman Wahid, dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. “Gus” adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak kiai yang berati “abang” atau “mas”.

Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara yang dilahirkan di Denanyar Jombang Jawa Timur pada tanggal 4 Agustus 1940. Secara genetik Gus Dur adalah keturunan “darah biru”. Ayahnya, K.H. Wahid Hasyim adalah putra K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU)-organisasi massa Islam terbesar di Indonesia-dan pendiri Pesantren Tebu Ireng Jombang. Ibundanya, Ny. Hj. Sholehah adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, K.H. Bisri Syamsuri. Kakek dari pihak ibunya ini juga merupakan tokoh NU, yang menjadi Rais ‘Aam PBNU setelah K.H. Abdul Wahab Hasbullah. Dengan demikian, Gus Dur merupakan cucu dari dua ulama NU sekaligus, dan dua tokoh bangsa Indonesia.

Pada tahun 1949, ketika clash dengan pemerintahan Belanda telah berakhir, ayahnya diangkat sebagai Menteri Agama pertama, sehingga keluarga Wahid Hasyim pindah ke Jakarta. Dengan demikian suasana baru telah dimasukinya. Tamu-tamu, yang terdiri dari para tokoh-dengan berbagai bidang profesi-yang sebelumnya telah dijumpai di rumah kakeknya, terus berlanjut ketika ayahnya menjadi Menteri agama. Hal ini memberikan pengalaman tersendiri bagi seorang anak bernama Abdurrahman Wahid. Secara tidak langsung, Gus Dur juga mulai berkenalan dengan dunia politik yang didengar dari kolega ayahnya yang sering mangkal di rumahnya.

Sejak masa kanak-kanak, ibunya telah ditandai berbagai isyarat bahwa Gus Dur akan mengalami garis hidup yang berbeda dan memiliki kesadaran penuh akan tanggung jawab terhadap NU. Pada bulan April 1953, Gus Dur pergi bersama ayahnya mengendarai mobil ke daerah Jawa Barat untuk meresmikan madrasah baru. Di suatu tempat di sepanjang pegunungan antara Cimahi dan Bandung, mobilnya mengalami kecelakaan. Gus Dur bisa diselamatkan, akan tetapi ayahnya meninggal. Kematian ayahnya membawa pengaruh tersendiri dalam kehidupannya.

Dalam kesehariannya, Gus Dur mempunyai kegemaran membaca dan rajin memanfaatkan perpustakaan pribadi ayahnya. Selain itu ia juga aktif berkunjung keperpustakaan umum di Jakarta. Pada usia belasan tahun Gus Dur telah akrab dengan berbagai majalah, surat kabar, novel dan buku-buku yang agak serius. Karya-karya yang dibaca oleh Gus Dur tidak hanya cerita-cerita, utamanya cerita silat dan fiksi, akan tetapi wacana tentang filsafat dan dokumen-dokumen manca negara tidak luput dari perhatianya.

Di samping membaca, tokoh satu ini senang pula bermain bola, catur dan musik. Dengan demikian, tidak heran jika Gus Dur pernah diminta untuk menjadi komentator sepak bola di televisi. Kegemaran lainnya, yang ikut juga melengkapi hobinya adalah menonton bioskop. Kegemarannya ini menimbulkan apresiasi yang mendalam dalam dunia film. Inilah sebabnya mengapa Gu Dur pada tahun 1986-1987 diangkat sebagai ketua juri Festival Film Indonesia.

Masa remaja Gus Dur sebagian besar dihabiskan di Yogyakarta dan Tegalrejo. Di dua tempat inilah pengembangan ilmu pengetahuan mulai meningkat. Masa berikutnya, Gus Dur tinggal di Jombang, di pesantren Tambak Beras, sampai kemudian melanjutkan studinya di Mesir. Sebelum berangkat ke Mesir, pamannya telah melamarkan seorang gadis untuknya, yaitu Sinta Nuriyah anak Haji Muh. Sakur. Perkawinannya dilaksanakan ketika ia berada di Mesir.

Pengalaman Pendidikan

Pertama kali belajar, Gus Dur kecil belajar pada sang kakek, K.H. Hasyim Asy’ari. Saat serumah dengan kakeknya, ia diajari mengaji dan membaca al-Qur’an. Dalam usia lima tahun ia telah lancar membaca al-Qur’an. Pada saat sang ayah pindah ke Jakarta, di samping belajar formal di sekolah, Gus Dur masuk juga mengikuti les privat Bahasa Belanda. Guru lesnya bernama Willem Buhl, seorang Jerman yang telah masuk Islam, yang mengganti namanya dengan Iskandar. Untuk menambah pelajaran Bahasa Belanda tersebut, Buhl selalu menyajikan musik klasik yang biasa dinikmati oleh orang dewasa. Inilah pertama kali persentuhan Gu Dur dengan dunia Barat dan dari sini pula Gus Dur mulai tertarik dan mencintai musik klasik.

Menjelang kelulusannya di Sekolah Dasar, Gus Dur memenangkan lomba karya tulis (mengarang) se-wilayah kota Jakarta dan menerima hadiah dari pemerintah. Pengalaman ini menjelaskan bahwa Gus Dur telah mampu menuangkan gagasan/ide-idenya dalam sebuah tulisan. Karenanya wajar jika pada masa kemudian tulisan-tulisan Gus Dur menghiasai berbagai media massa.

Setelah lulus dari Sekolah Dasar, Gus Dur dikirim orang tuanya untuk belajar di Yogyakarta. Pada tahun 1953 ia masuk SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) Gowongan, sambil mondok di pesantren Krapyak. Sekolah ini meskipun dikelola oleh Gereja Katolik Roma, akan tetapi sepenuhnya menggunakan kurikulum sekuler. Di sekolah ini pula pertama kali Gus Dur belajar Bahasa Inggris. Karena merasa terkekang hidup dalam dunia pesantren, akhirnya ia minta pindah ke kota dan tinggal di rumah Haji Junaidi, seorang pimpinan lokal Muhammadiyah dan orang yang berpengaruh di SMEP. Kegiatan rutinnya, setelah shalat subuh mengaji pada K.H. Ma’sum Krapyak, siang hari sekolah di SMEP, dan pada malam hari ia ikut berdiskusi bersama dengan Haji Junaidi dan anggota Muhammadiyah lainnya.

Ketika menjadi siswa sekolah lanjutan pertama tersebut, hobi membacanya semakin mendapatkan tempat. Gus Dur, misalnya, didorong oleh gurunya untuk menguasai Bahasa Inggris, sehingga dalam waktu satu-dua tahun Gus Dur menghabiskan beberapa buku dalam bahasa Inggris.

Di antara buku-buku yang pernah dibacanya adalah karya Ernest Hemingway, John Steinbach, dan William Faulkner. Di samping itu, ia juga membaca sampai tuntas beberapa karya Johan Huizinga, Andre Malraux, Ortega Y. Gasset, dan beberapa karya penulis Rusia, seperti: Pushkin, Tolstoy, Dostoevsky dan Mikhail Sholokov. Gus Dur juga melahap habis beberapa karya Wiill Durant yang berjudul ‘The Story of Civilazation’. Selain belajar dengan membaca buku-buku berbahasa Inggris, untuk meningkatan kemampuan bahasa Ingrisnya sekaligus untuk menggali informasi, Gus Dur aktif mendengarkan siaran lewat radio Voice of America dan BBC London. Ketika mengetahui bahwa Gus Dur pandai dalam bahasa Inggis, Pak Sumatri-seorang guru SMEP yang juga anggota Partai Komunis-memberi buku karya Lenin ‘What is To Be Done’ . Pada saat yang sama, anak yang memasuki masuki masa remaja ini telah mengenal Das Kapital-nya Karl Marx, filsafat Plato,Thales, dan sebagainya. Dari paparan ini tergambar dengan jelas kekayaan informasi dan keluasan wawasan Gus Dur.

Setamat dari SMEP Gus Dur melanjutkan belajarnya di Pesantren Tegarejo Magelang Jawa Tengah. Pesantren ini diasuh oleh K.H. Chudhari, sosok kyai yang humanis, saleh dan guru dicintai. Kyai Chudhari inilah yang memperkenalkan Gus Dur dengan ritus-ritus sufi dan menanamkan praktek-praktek ritual mistik. Di bawah bimbingan kyai ini pula, Gus Dur mulai mengadakan ziarah ke kuburan-kuburan keramat para wali di Jawa. Pada saat masuk ke pesantren ini, Gus Dur membawa seluruh koleksi buku-bukunya, yang membuat santri-santri lain terheran-heran. Pada saat ini pula Gus Dur telah mampu menunjukkan kemampuannya dalam berhumor dan berbicara.

Dalam kaitan dengan yang terakhir ini ada sebuah kisah menarik yang patut diungkap dalam paparan ini adalah pada acara imtihan-pesta akbar yang diselenggarakan sebelum puasa pada saat perpisahan santri yang selesai menamatkan belajar-dengan menyediakan makanan dan minuman dan mendatangkan semua hiburan rakyat, seperti: Gamelan, tarian tradisional, kuda lumping, jathilan, dan sebagainya. Jelas, hiburan-hiburan seperti tersebut di atas sangat tabu bagi dunia pesantren pada umumnya. Akan tetapi itu ada dan terjadi di Pesantren Tegalrejo.

Setelah menghabiskan dua tahun di pesantren Tegalrejo, Gus Dur pindah kembali ke Jombang, dan tinggal di Pesantren Tambak Beras. Saat itu usianya mendekati 20 tahun, sehingga di pesantren milik pamannya, K.H. Abdul Fatah, ia menjadi seorang ustadz, dan menjadi ketua keamanan. Pada usia 22 tahun, Gus Dur berangkat ke tanah suci, untuk menunaikan ibadah haji, yang kemudian diteruskan ke Mesir untuk melanjutkan studi di Universitas al-Azhar. Pertama kali sampai di Mesir, ia merasa kecewa karena tidak dapat langsung masuk dalam Universitas al-Azhar, akan tetapi harus masuk Aliyah (semacam sekolah persiapan). Di sekolah ia merasa bosan, karena harus mengulang mata pelajaran yang telah ditempuhnya di Indonesia. Untuk menghilangkan kebosanan, Gus Dur sering mengunjungi perpustakaan dan pusat layanan informasi Amerika (USIS) dan toko-toko buku dimana ia dapat memperoleh buku-buku yang dikehendaki.

Terdapat kondisi yang menguntungkan saat Gus Dur berada di Mesir, di bawah pemerintahan Presiden Gamal Abdul Nasr, seorang nasioonalis yang dinamis, Kairo menjadi era keemasan kaum intelektual. Kebebasan untuk mengeluarkkan pendapat mendapat perlindungan yang cukup. Pada tahun 1966 Gus Dur pindah ke Irak, sebuah negara modern yang memiliki peradaban Islam yang cukup maju. Di Irak ia masuk dalam Departement of Religion di Universitas Bagdad samapi tahun 1970. Selama di Baghdad Gus Dur mempunyai pengalaman hidup yang berbeda dengan di Mesir. Di kota seribu satu malam ini Gus Dur mendapatkan rangsangan intelektual yang tidak didapatkan di Mesir. Pada waktu yang sama ia kembali bersentuhan dengan buku-buku besar karya sarjana orientalis Barat. Ia kembali menekuni hobinya secara intensif dengan membaca hampir semua buku yang ada di Universitas.

Di luar dunia kampus, Gus Dur rajin mengunjungi makam-makam keramat para wali, termasuk makam Syekh Abdul Qadir al-Jailani, pendiri jamaah tarekat Qadiriyah. Ia juga menggeluti ajaran Imam Junaid al-Baghdadi, seorang pendiri aliran tasawuf yang diikuti oleh jamaah NU. Di sinilah Gus Dur menemukan sumber spiritualitasnya. Kodisi politik yang terjadi di Irak, ikut mempengaruhi perkembangan pemikiran politik Gus Dur pada saat itu. Kekagumannya pada kekuatan nasionalisme Arab, khususnya kepada Saddam Husain sebagai salah satu tokohnya, menjadi luntur ketika syekh yang dikenalnya, Azis Badri tewas terbunuh.

Selepas belajar di Baghdad Gus Dur bermaksud melanjutkan studinya ke Eropa. Akan tetapi persyaratan yang ketat, utamanya dalam bahasa-misalnya untuk masuk dalam kajian klasik di Kohln, harus menguasai bahasa Hebraw, Yunani atau Latin dengan baik di samping bahasa Jerman-tidak dapat dipenuhinya, akhirnya yang dilakukan adalah melakukan kunjungan dan menjadi pelajar keliling, dari satu universitas ke universitas lainnya. Pada akhirnya ia menetap di Belanda selama enam bulan dan mendirikan Perkumpulan Pelajar Muslim Indonesia dan Malaysia yang tinggal di Eropa. Untuk biaya hidup dirantau, dua kali sebulan ia pergi ke pelabuhan untuk bekerja sebagai pembersih kapal tanker. Gus Dur juga sempat pergi ke McGill University di Kanada untuk mempelajari kajian-lkajian keislaman secara mendalam. Namun, akhirnya ia kembali ke Indoneisa setelah terilhami berita-berita yang menarik sekitar perkembangan dunia pesantren. Perjalanan keliling studi Gus Dur berakhir pada tahun 1971, ketika ia kembali ke Jawa dan mulai memasuki kehidupan barunya, yang sekaligus sebagai perjalanan awal kariernya.

Meski demikian, semangat belajar Gus Dur tidak surut. Buktinya pada tahun 1979 Gus Dur ditawari untuk belajar ke sebuah universitas di Australia guna mendapatkkan gelar doktor. Akan tetapi maksud yang baik itu tidak dapat dipenuhi, sebab semua promotor tidak sanggup, dan menggangap bahwa Gus Dur tidak membutuhkan gelar tersebut. Memang dalam kenyataannya beberapa disertasi calon doktor dari Australia justru dikirimkan kepada Gus Dur untuk dikoreksi, dibimbing yang kemudian dipertahankan di hadapan sidang akademik.

Perjalanan Karir

Sepulang dari pegembaraanya mencari ilmu, Gus Dur kembali ke Jombang dan memilih menjadi guru. Pada tahun 1971, tokoh muda ini bergabung di Fakultas Ushuludin Universitas Tebu Ireng Jombang. Tiga tahun kemudian ia menjadi sekretaris Pesantren Tebu Ireng, dan pada tahun yang sama Gus Dur mulai menjadi penulis. Ia kembali menekuni bakatnya sebagaii penulis dan kolumnis. Lewat tulisan-tulisan tersebut gagasan pemikiran Gus Dur mulai mendapat perhatian banyak. Djohan Efendi, seorang intelektual terkemuka pada masanya, menilai bahwa Gus Dur adalah seorang pencerna, mencerna semua pemikiran yang dibacanya, kemudian diserap menjadi pemikirannya tersendiri. Sehingga tidak heran jika tulisan-tulisannya jarang menggunakan foot note.

Pada tahun 1974 Gus Dur diminta pamannya, K.H. Yusuf Hasyim untuk membantu di Pesantren Tebu Ireng Jombang dengan menjadi sekretaris. Dari sini Gus Dur mulai sering mendapatkan undangan menjadi nara sumber pada sejumlah forum diskusi keagamaan dan kepesantrenan, baik di dalam maupun luar negeri. Selanjutnya Gus Dur terlibat dalam kegiatan LSM. Pertama di LP3ES bersama Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin dan Adi Sasono dalam proyek pengembangan pesantren, kemudian Gus Dur mendirikan P3M yang dimotori oleh LP3ES.

Pada tahun 1979 Gus Dur pindah ke Jakarta. Mula-mula ia merintis Pesantren Ciganjur. Sementara pada awal tahun 1980 Gus Dur dipercaya sebagai wakil katib syuriah PBNU. Di sini Gus Dur terlibat dalam diskusi dan perdebatan yang serius mengenai masalah agama, sosial dan politik dengan berbagai kalangan lintas agama, suku dan disiplin. Gus Dur semakin serius menulis dan bergelut dengan dunianya, baik di lapangan kebudayaan, politik, maupun pemikiran keislaman. Karier yang dianggap ‘menyimpang’-dalam kapasitasnya sebagai seorang tokoh agama sekaligus pengurus PBNU-dan mengundang cibiran adalah ketika menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahunn 1983. Ia juga menjadi ketua juri dalam Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1986, 1987.

Pada tahun 1984 Gus Dur dipilih secara aklamasi oleh sebuah tim ahl hall wa al-’aqdi yang diketuai K.H. As’ad Syamsul Arifin untuk menduduki jabatan ketua umum PBNU pada muktamar ke-27 di Situbondo. Jabatan tersebut kembali dikukuhkan pada muktamar ke-28 di pesantren Krapyak Yogyakarta (1989), dan muktamar di Cipasung Jawa Barat (1994). Jabatan ketua umum PBNU kemudian dilepas ketika Gus Dur menjabat presiden RI ke-4. Meskipun sudah menjadi presiden, ke-nyleneh-an Gus Dur tidak hilang, bahkan semakin diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat. Dahulu, mungkin hanya masyarakat tertentu, khususnya kalangan nahdliyin yang merasakan kontroversi gagasannya. Sekarang seluruh bangsa Indonesia ikut memikirkan kontroversi gagasan yang dilontarkan oleh K.H. Abdurrahman Wahid.

Catatan perjalanan karier Gus Dur yang patut dituangkan dalam pembahasan ini adalah menjadi ketua Forum Demokrasi untuk masa bakti 1991-1999, dengan sejumlah anggota yang terdiri dari berbagai kalangan, khususnya kalangan nasionalis dan non muslim. Anehnya lagi, Gus Dur menolak masuk dalam organisasi ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia). Tidak hanya menolak bahkan menuduh organisai kaum ‘elit Islam’ tersebut dengan organisasi sektarian.

Dari paparan tersebut di atas memberikan gambaran betapa kompleks dan rumitnya perjalanan Gus Dur dalam meniti kehidupannya, bertemu dengan berbagai macam orang yang hidup dengan latar belakang ideologi, budaya, kepentingan, strata sosial dan pemikiran yang berbeda. Dari segi pemahaman keagamaan dan ideologi, Gus Dur melintasi jalan hidup yang lebih kompleks, mulai dari yang tradisional, ideologis, fundamentalis, sampai moderrnis dan sekuler. Dari segi kultural, Gus Dur mengalami hidup di tengah budaya Timur yang santun, tertutup, penuh basa-basi, sampai denga budaya Barat yang terbuka, modern dan liberal. Demikian juga persentuhannya dengan para pemikir, mulai dari yang konservatif, ortodoks sampai yang liberal dan radikal semua dialami.

Pemikiran Gus Dur mengenai agama diperoleh dari dunia pesantren. Lembaga inilah yang membentuk karakter keagamaan yang penuh etik, formal, dan struktural. Sementara pengembaraannya ke Timur Tengah telah mempertemukan Gus Dur dengan berbagai corak pemikirann Agama, dari yang konservatif, simbolik-fundamentalis sampai yang liberal-radikal. Dalam bidang kemanusiaan, pikiran-pikiran Gus Dur banyak dipengaruhi oleh para pemikir Barat dengan filsafat humanismenya. Secara rasa maupun praktek prilaku yang humanis, pengaruh para kyai yang mendidik dan membimbingnya mempunyai andil besar dalam membentuk pemikiran Gus Dur. Kisah tentang Kyai Fatah dari Tambak Beras, KH. Ali Ma’shum dari Krapyak dan Kyai Chudhori dari Tegalrejo telah membuat pribadi Gus Dur menjadi orang yang sangat peka pada sentuhan-sentuhan kemanusiaan.

Dari segi kultural, Gus Dur melintasi tiga model lapisan budaya. Pertama, Gus Dur bersentuhan dengan kultur dunia pesantren yang sangat hierarkis, tertutup, dan penuh dengan etika yang serba formal; kedua, dunia Timur yang terbuka dan keras; dan ketiga, budaya Barat yang liberal, rasioal dan sekuler. Kesemuanya tampak masuk dalam pribadi dan membetuk sinergi. Hampir tidak ada yang secara dominan berpengaruh membentuk pribadi Gus Dur. Sampai sekarang masing-masing melakukan dialog dalam diri Gus Dur. Inilah sebabnya mengapa Gus Dur selalu kelihatan dinamis dan suliit dipahami. Kebebasannya dalam berpikir dan luasnya cakrawala pemikiran yang dimilikinya melampaui batas-batas tradisionalisme yang dipegangi komunitasnya sendiri.

Penghargaan

• Tokoh 1990, Majalah Editor, tahun 1990
• Ramon Magsaysay Award for Community Leadership, Ramon Magsaysay Award Foundation, Philipina, tahun 1991
• Islamic Missionary Award from the Government of Egypt, tahun 1991
• Penghargaan Bina Ekatama, PKBI, tahun 1994
• Man Of The Year 1998, Majalah berita independent (REM), tahun 1998
• Honorary Degree in Public Administration and Policy Issues from the University of Twente, tahun 2000
• Gelar Doktor Kehormatan dari Universitas Jawaharlal Nehru, tahun 2000
• Doctor Honoris Causa dalam bidang Philosophy In Law dari Universitas Thammasat Thaprachan Bangkok, Thailand, Mei 2000
• Doctor Honoris Causa dari Universitas Paris I (Panthéon-Sorbonne) pada bidang ilmu hukum dan politik, ilmu ekonomi dan manajemen, dan ilmu humaniora, tahun 2000
• Penghargaan Kepemimpinan Global (The Global Leadership Award) dari Columbia University, September 2000
• Doctor Honoris Causa dari Asian Institute of Technology, Thailand, tahun 2000
• Ambassador for Peace, salah satu badan PBB, tahun 2001
• Doctor Honoris Causa dari Universitas Sokka, Jepang, tahun 2002
• Doctor Honoris Causa bidang hukum dari Konkuk University, Seoul Korea Selatan, 21 Maret 2003.
.

Nama:
Abdurrahman Wahid

Lahir:
Denanyar, Jombang, Jawa Timur, 4 Agustus 1940.

Orang Tua:
Wahid Hasyim (ayah), Solechah (ibu).

Istri :
Sinta Nuriyah

Anak-anak :
Alisa Qotrunada Zannuba Arifah Anisa Hayatunufus Inayah Wulandari

Pendidikan :
• Pesantren Tambak Beras, Jombang (1959-1963)
• Departemen Studi Islam dan Arab Tingkat Tinggi, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir (1964-1966)
• Fakultas Surat-surat Universitas Bagdad (1966-1970)

Karir
• Pengajar Pesantren Pengajar dan Dekan Universitas Hasyim Ashari Fakultas Ushuludin (sebuah cabang teologi menyangkut hukum dan filosofi)
• Ketua Balai Seni Jakarta (1983-1985)
• Penemu Pesantren Ciganjur (1984-sekarang)
• Ketua Umum Nahdatul Ulama (1984-1999)
• Ketua Forum Demokrasi (1990)
• Ketua Konferensi Agama dan Perdamaian Sedunia (1994)
• Anggota MPR (1999)
• Presiden Republik Indonesia (20 Oktober 1999-24 Juli 2001)

Penghargaan
• Penghargaan Magsaysay dari Pemerintah Filipina atas usahanya mengembangkan hubungan antar-agama di Indonesia (1993)
• Penghargaan Dakwah Islam dari pemerintah Mesir (1991)

Rabu, 16 Februari 2011

Biografi Imam Syafi’i



(oleh: Novya nur afandi)



Nama beliau ialah Muhammad bin Idris bin Al-‘Abbas bin ‘Uthman bin Shafi’ bin Al-Saib bin ‘Ubaid bin Yazid bin Hashim bin ‘Abd al-Muttalib bin ’Abd Manaf bin Ma’n bin Kilab bin Murrah bin Lu’i bin Ghalib bin Fahr bin Malik bin Al-Nadr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrakah bin Ilias bin Al-Nadr bin Nizar bin Ma’d bin ‘Adnan bin Ud bin Udad. Keturunan beliau bertemu dengan titisan keturunan Rasulullah s.a.w pada ‘Abd Manaf. Ibunya berasal dari Kabilah Al-Azd, satu kabilah Yaman yang masyhur. 

Penghijrahan ke Palestina Sebelum beliau dilahirkan, keluarganya telah berpindah ke Palestina kerana beberapa keperluan dan bapanya terlibat di dalam angkatan tentera yang ditugaskan untuk mengawal perbatasan Islam di sana. . Kelahiran dan Kehidupannya Menurut pendapat yang masyhur, beliau dilahirkan di Ghazzah – Palestina pada tahun 150 Hijrah. Tidak lama sesudah beliau dilahirkan bapanya meninggal dunia. Tinggallah beliau bersama-sama ibunya sebagai seorang anak yatim. Kehidupan masa kecilnya dilalui dengan serba kekurangan dan kesulitan. PENGEMBARAAN IMAM AL-SHAFI’I Hidup Imam As-Shafi’i (150H – 204H ) merupakan satu siri pengembaraan yang tersusun di dalam bentuk yang sungguh menarik dan amat berkesan terhadap pembentukan kriteria ilmiah dan popularitasnya. Al-Shafi’i di Makkah ( 152H – 164H ) Pengembaraan beliau bermula sejak beliau berumur dua tahun lagi (152H), ketika itu beliau dibawa oleh ibunya berpindah dari tempat kelahirannya iaitu dari Ghazzah, Palestina ke Kota Makkah untuk hidup bersama kaum keluarganya di sana. 

Di kota Makkah kehidupan beliau tidak tetap kerana beliau dihantar ke perkampungan Bani Huzail, menurut tradisi bangsa Arab ketika itu bahawa penghantaran anak-anak muda mereka ke perkampungan tersebut dapat mewarisi kemahiran bahasa ibunda mereka dari sumber asalnya yang belum lagi terpengaruh dengan integrasi bahasa-bahasa asing seperti bahasa Parsi dan sebagainya. Satu perkara lagi adalah supaya pemuda mereka dapat dibekalkan dengan Al-Furusiyyah (Latihan Perang Berkuda). Kehidupan beliau di peringkat ini mengambil masa dua belas tahun ( 152 – 164H ). Sebagai hasil dari usahanya, beliau telah mahir dalam ilmu bahasa dan sejarah di samping ilmu-ilmu yang berhubung dengan Al-Quran dan Al-Hadith. Selepas pulang dari perkampungan itu beliau meneruskan usaha pembelajarannya dengan beberapa mahaguru di Kota Makkah sehingga beliau menjadi terkenal. Dengan kecerdikan dan kemampuan ilmiahnya beliau telah dapat menarik perhatian seorang mahagurunya iaitu Muslim bin Khalid Al-Zinji yang mengizinkannya untuk berfatwa sedangkan umur beliau masih lagi di peringkat remaja iaitu lima belas tahun. Al-Shafi’i di Madinah ( 164H – 179H ) Sesudah itu beliau berpindah ke Madinah dan menemui Imam Malik. Beliau berdamping dengan Imam Malik di samping mempelajari ilmunya sehinggalah Imam Malik wafat pada tahun 179H, iaitu selama lima belas tahun. 

Semasa beliau bersama Imam Malik hubungan beliau dengan ulama-ulama lain yang menetap di kota itu dan juga yang datang dari luar berjalan dengan baik dan berfaedah. Dari sini dapatlah difahami bahawa beliau semasa di Madinah telah dapat mewarisi ilmu bukan saja dari Imam Malik tetapi juga dari ulama-ulama lain yang terkenal di kota itu. Al-Shafi’i di Yaman ( 179H – 184H ) Ketika Imam Malik wafat pada tahun 179H, kota Madinah diziarahi oleh Gabenor Yaman. Beliau telah dicadangkan oleh sebahagian orang-orang Qurasyh Al-Madinah supaya mencari pekerjaan bagi Al-Shafi’i. Lalu beliau melantiknya menjalankan satu pekerjaan di wilayah Najran. Sejak itu Al-Shafi’i terus menetap di Yaman sehingga berlaku pertukaran Gabenor wilayah itu pada tahun 184H. Pada tahun itu satu fitnah ditimbulkan terhadap diri Al-Shafi’i sehingga beliau dihadapkan ke hadapan Harun Al-Rashid di Baghdad atas tuduhan Gabenor baru itu yang sering menerima kecaman Al-Shafi’i kerana kekejaman dan kezalimannya. Tetapi ternyata bahawa beliau tidak bersalah dan kemudiannya beliau dibebaskan. Al-Shafi’i di Baghdad ( 184H – 186H ) Peristiwa itu walaupun secara kebetulan, tetapi membawa arti yang amat besar kepada Al-Shafi’i kerana pertamanya, ia berpeluang menziarahi kota Baghdad yang terkenal sebagai pusat ilmu pengetahuan dan para ilmuan pada ketika itu. Keduanya, ia berpeluang bertemu dengan Muhammad bin Al-Hassan Al-Shaibani, seorang tokoh Mazhab Hanafi dan sahabat karib Imam Abu Hanifah dan lain-lain tokoh di dalam Mazhab Ahl al-Ra’y. 

Dengan peristiwa itu terbukalah satu era baru dalam siri pengembaraan Al-Imam ke kota Baghdad yang dikatakan berlaku sebanyak tiga kali sebelum beliau berpindah ke Mesir. Dalam pengembaraan pertama ini Al-Shafi’i tinggal di kota Baghdad sehingga tahun 186H. Selama masa ini (184 – 186H) beliau sempat membaca kitab-kitab Mazhab Ahl al-Ra’y dan mempelajarinya, terutamanya hasil tulisan Muhammad bin Al-Hassan Al-Shaibani, di samping membincanginya di dalam beberapa perdebatan ilmiah di hadapan Harun Al-Rashid sendiri. Al-Shafi’i di Makkah ( 186H – 195H ) Pada tahun 186H, Al-Shafi’i pulang ke Makkah membawa bersamanya hasil usahanya di Yaman dan Iraq dan beliau terus melibatkan dirinya di bidang pengajaran. 

Dari sini muncullah satu bintang baru yang berkerdipan di ruang langit Makkah membawa satu nafas baru di bidang fiqah, satu nafas yang bukan Hijazi, dan bukan pula Iraqi dan Yamani, tetapi ia adalah gabungan dari ke semua aliran itu. Sejak itu menurut pendapat setengah ulama, lahirlah satu Mazhab Fiqhi yang baru yang kemudiannya dikenali dengan Mazhab Al-Shafi’i. Selama sembilan tahun (186 – 195H) Al-Shafi’i menghabiskan masanya di kota suci Makkah bersama-sama para ilmuan lainnya, membahas, mengajar, mengkaji di samping berusaha untuk melahirkan satu intisari dari beberapa aliran dan juga persoalan yang sering bertentangan yang beliau temui selama masa itu. Al-Shafi’i di Baghdad ( 195H – 197H ) Dalam tahun 195H, untuk kali keduanya Al-Shafi’i berangkat ke kota Baghdad. Keberangkatannya kali ini tidak lagi sebagai seorang yang tertuduh, tetapi sebagai seorang alim Makkah yang sudah mempunyai personalitas dan aliran fiqah yang tersendiri. 

Catatan perpindahan kali ini menunjukkan bahawa beliau telah menetap di negara itu selama dua tahun (195 – 197H). Di dalam masa yang singkat ini beliau berjaya menyebarkan “Method Usuli” yang berbeza dari apa yang dikenali pada ketika itu. Penyebaran ini sudah tentu menimbulkan satu respon dan reaksi yang luarbiasa di kalangan para ilmuan yang kebanyakannya adalah terpengaruh dengan method Mazhab Hanafi yang disebarkan oleh tokoh utama Mazhab itu, yaitu Muhammad bin Al-Hasan Al-Shaibani. Kata Al-Karabisi : “Kami sebelum ini tidak kenal apakah (istilah) Al-Kitab, Al- Sunnah dan Al-Ijma’, sehinggalah datangnya Al-Shafi’i, beliaulah yang menerangkan maksud Al-Kitab, Al-Sunnah dan Al-Ijma’”. Kata Abu Thaur : “Kata Al-Shafi’i : Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menyebut (di dalam kitab-Nya) mengenai sesuatu maksud yang umum tetapi Ia menghendaki maksudnya yang khas, dan Ia juga telah menyebut sesuatu maksud yang khas tetapi Ia menghendaki maksudnya yang umum, dan kami (pada ketika itu) belum lagi mengetahui perkara-perkara itu, lalu kami tanyakan beliau …” Pada masa itu juga dikatakan beliau telah menulis kitab usulnya yang pertama atas permintaan ‘Abdul Rahman bin Mahdi, dan juga beberapa penulisan lain dalam bidang fiqah dan lain-lain. Al-Shafi’i di Makkah dan Mesir ( 197H – 204H ) Sesudah dua tahun berada di Baghdad (197H) beliau kembali ke Makkah. Pada tahun 198H, beliau keluar semula ke Baghdad dan tinggal di sana hanya beberapa bulan sahaja. Pada awal tahun 199H, beliau berangkat ke Mesir dan sampai ke negara itu dalam tahun itu juga. Di negara baru ini beliau menetap sehingga ke akhir hayatnya pada tahun 204H. Imam As-Shafi’i wafat pada tahun 204H. Asas Fiqih dan Ushul Fiqih kemudian disebar dan diusaha-kembangkan oleh para sahabatnya yang berada di Al-Hijaz, Iraq dan Mesir. FATWA-FATWA IMAM AL-SHAFI’I Perpindahan beliau ke Mesir mengakibatkan satu perubahan besar dalam Mazhabnya. Kesan perubahan ini melibatkan banyak fatwanya semasa beliau di Baghdad turut sama berubah. Banyak kandungan kitab-kitab fiqahnya yang beliau hasilkan di Baghdad disemak semula dan diubah. Dengan ini terdapat dua fatwa bagi As-Shafi’i, fatwa lama dan fatwa barunya. Fatwa lamanya ialah segala fatwa yang diucapkan atau ditulisnya semasa beliau berada di Iraq, fatwa barunya ialah fatwa yang diucapkan atau ditulisnya semasa beliau berada di Mesir. Kadang-kadang dipanggil fatwa lamanya dengan Mazhabnya yang lama atau Qaul Qadim dan fatwa barunya dinamakan dengan Mazhab barunya atau Qaul Jadid.

Di sini harus kita fahami bahawa tidak kesemua fatwa barunya menyalahi fatwa lamanya dan tidak pula kesemua fatwa lamanya dibatalkannya, malahan ada di antara fatwa barunya yang menyalahi fatwa lamanya dan ada juga yang bersamaan dengan yang lama. Kata Imam Al-Nawawi : “Sebenarnya sebab dikatakan kesemua fatwa lamanya itu ditarik kembali dan tidak diamalkannya hanyalah berdasarkan kepada ghalibnya sahaja”. PARA SAHABAT IMAM AL-SHAFI’I Di antara para sahabat Imam Al-Shafi’i yang terkenal di Al-Hijaz (Makkah dan Al-Madinah) ialah :- 
1. Abu Bakar Al-Hamidi, ‘Abdullah bun Al-Zubair Al-Makki yang wafat pada tahun 219H. 2. Abu Wahid Musa bin ‘Ali Al-Jarud Al-Makki yang banyak menyalin kitab-kitab Al-Shafi’i. Tidak diketahui tarikh wafatnya. 3. Abu Ishak Ibrahim bin Muhammad bin Al-‘Abbasi bin ‘Uthman bin Shafi ‘Al-Muttalibi yang wafat pada tahun 237H. 4. Abu Bakar Muhammad bin Idris yang tidak diketahui tarikh wafatnya. Sementara di Iraq pula kita menemui ramai para sahabat Imam Al-Shafi’i yang terkenal, di antara mereka ialah :- 
1. Abu ‘Abdullah Ahmad bin Hanbal, Imam Mazhab yang keempat. Beliau wafat pada tahun 241H. 2. Abu ‘Ali Al-Hasan bin Muhammad Al-Za’farani yang wafat pada tahun 249H. 3. Abu Thaur Ibrahim bin Khalid Al-Kalbi yang wafat pada tahun 240H. 4. Al-Harith bin Suraij Al-Naqqal, Abu ‘Umar. Beliau wafat pada tahun 236H. 5. Abu ‘Ali Al-Husain bin ‘Ali Al-Karabisi yang wafat pada tahun 245H. 6. Abu ‘Abdul RahmanAhmad bin Yahya Al-Mutakallim. Tidak diketahui tarikh wafatnya. 7. Abu Zaid ‘Abdul Hamid bin Al-Walid Al-Misri yang wafat pada tahun 211H. 8. Al-Husain Al-Qallas. Tidak diketahui tarikh wafatnya. 9. ‘Abdul ‘Aziz bin Yahya Al-Kannani yang wafat pada tahun 240H. 10. ‘Ali bin ‘Abdullah Al-Mudaiyini. Di Mesir pula terdapat sebilangan tokoh ulama yang kesemua mereka adalah sahabat Imam Al-Shafi’i, seperti :- 1. Abu Ibrahim Isma’il bin Yahya bin ‘Amru bin Ishak Al-Mudhani yang wafat pada tahun 264H. 2. Abu Muhammad Al-Rabi’ bin Sulaiman Al-Muradi yang wafat pada tahun 270H. 3. Abu Ya’kub Yusuf bin Yahya Al-Misri Al-Buwaiti yang wafat pada tahun 232H. 4. Abu Najib Harmalah bin Yahya Al-Tajibi yang wafat pada tahun 243H. 5. Abu Musa Yunus bin ‘Abdul A’la Al-Sadaghi yang wafat pada tahun 264H. 6. Abu ‘Abdullah Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam Al-Misri yang wafat pada tahun 268H. 7. Al-Rabi’ bin Sulaiman Al-Jizi yang wafat pada tahun 256H. Dari usaha gigih mereka, Mazhab Al-Shafi’i tersebar dan berkembang luas di seluruh rantau Islam di zaman-zaman berikutnya. PERKEMBANGAN MAZHAB IMAM AL-SHAFI’I Menurut Ibn Al-Subki bahawa Mazhab Al-Shafi’I telah berkembang dan menjalar pengaruhnya di merata-rata tempat, di kota dan di desa, di seluruh rantau negara Islam. Pengikut-pengikutnya terdapat di Iraq dan kawasan-kawasan sekitarnya, di Naisabur, Khurasan, Muru, Syria, Mesir, Yaman, Hijaz, Iran dan di negara-negara timur lainnya hingga ke India dan sempadan negara China. Penyebaran yang sebegini meluas setidak-tidaknya membayangkan kepada kita sejauh mana kewibawaan peribadi Imam Al-Shafi’i sebagai seorang tokoh ulama dan keunggulan Mazhabnya sebagai satu-satunya aliran fiqah yang mencabar aliran zamannya. IMAM AL-SHAFI’I DAN KITABNYA Permulaan Mazhabnya Sebenarnya penulisan Imam Al-Shafi’i secara umumnya mempunyai pertalian yang rapat dengan pembentukan Mazhabnya. Menurut Muhammad Abu Zahrah bahawa pembentukan Mazhabnya hanya bermula sejak sekembalinya dari kunjungan ke Baghdad pada tahun 186H. Sebelum itu Al-Shafi’i adalah salah seorang pengikut Imam Malik yang sering mempertahankan pendapatnya dan juga pendapat fuqaha’ Al-Madinah lainnya dari kecaman dan kritikan fuqaha’ Ahl Al-Ra’y. Sikapnya yang sebegini meyebabkan beliau terkenal dengan panggilan “Nasir Al-Hadith”. Detik terawal Mazhabnya bermula apabila beliau membuka tempat pengajarannya (halqah) di Masjid Al-Haram. Usaha beliau dalam memperkembangkan Mazhabnya itu bolehlah dibahagikan kepada tiga peringkat :- 
1. Peringkat Makkah (186 – 195H) 2. Peringkat Baghdad (195 – 197H) 3. Peringkat Mesir (199 – 204H) Dalam setiap peringkat diatas beliau mempunyai ramai murid dan para pengikut yang telah menerima dan menyebar segala pendapat ijtihad dan juga hasil kajiannya. Penulisan Pertamanya Memang agak sulit untuk menentukan apakah kitab pertama yang dihasilkan oleh Al-Shafi’i dan di mana dan selanjutnya apakah kitab pertama yang dihasilkannya dalam Ilmu Fiqah dan di mana? Kesulitan ini adalah berpunca dari tidak adanya keterangan yang jelas mengenai kedua-dua perkara tersebut. Pengembaraannya dari satu tempat ke satu tempat yang lain dan pulangnya semula ke tempat awalnya tambah menyulitkan lagi untuk kita menentukan di tempat mana beliau mulakan usaha penulisannya. Apa yang kita temui – sesudah kita menyemak beberapa buah kitab lama dan baru yang menyentuh sejarah hidupnya, hanya beberapa tanda yang menunjukkan bahawa kitabnya “Al-Risalah” adalah ditulis atas permintaan ‘Abdul Rahman bin Mahdi, iaitu sebuah kitab di dalam Ilmu Usul, pun keterangan ini tidak juga menyebut apakah kitab ini merupakan hasil penulisannya yang pertama atau sebelumnya sudah ada kitab lain yang dihasilkannya. Di samping adanya pertelingkahan pendapat di kalangan ‘ulama berhubung dengan tempat di mana beliau menghasilkan penulisan kitabnya itu. Ada pendapat yang mengatakan bahawa beliau menulisnya sewaktu beliau berada di Makkah dan ada juga pendapat yang mengatakan bahawa beliau menulisnya ketika berada di Iraq. 

Kata Ahmad Muhammad Shakir : “Al-Shafi’I telah mengarang beberapa buah kitab yang jumlahnya agak besar, sebahagiannya beliau sendiri yang menulisnya, lalu dibacakannya kepada orang ramai. Sebahagiannya pula beliau merencanakannya sahaja kepada para sahabatnya. Untuk mengira bilangan kitab-kitabnya itu memanglah sukar kerana sebahagian besarnya telahpun hilang. Kitab-kitab itu telah dihasilkan penulisannya ketika beliau berada di Makkah, di Baghdad dan di Mesir”. Kalaulah keterangan di atas boleh dipertanggungjawabkan maka dapatlah kita membuat satu kesimpulan bahawa Al-Shafi’i telah memulakan siri penulisannya sewaktu beliau di Makkah lagi, dan kemungkinan kitabnya yang pertama yang dihasilkannya ialah kitab “Al-Risalah”. Al-Hujjah Dan Kitab-kitab Mazhab Qadim Di samping “Al-Risalah” terdapat sebuah kitab lagi yang sering disebut-sebut oleh para ulama sebagai sebuah kitab yang mengandungi fatwa Mazhab Qadimnya iaitu “Al-Hujjah”. Pun keterangan mengenai kitab ini tidak menunjukkan bahawa ia adalah kitab pertama yang di tulis di dala bidang Ilmu Fiqah semasa beliau berada di Iraq, dan masa penulisannya pun tidak begitu jelas. 

Menurut beberapa keterangan, beliau menghasilkannya sewaktu beliau berpindah ke negara itu pada kali keduanya, iaitu di antara tahun-tahun 195 – 197H. Bersama-sama “Al-Hujjah” itu terdapat beberapa buah kitab lain di dalam Ilmu Fiqah yang beliau hasilkan sendiri penulisannya atau beliau merencanakannya kepada para sahabatnya di Iraq, antaranya seperti kitab-kitab berikut :-
1. Al-Amali 2. Majma’ al-Kafi 3. ‘Uyun al-Masa’il 4. Al-Bahr al-Muhit 5. Kitab al-Sunan 6. Kitab al-Taharah 7. Kitab al-Solah 8. Kitab al-Zakah 9. Kitab al-Siam 10. Kitab al-Haj 11. Bitab al-I’tikaf 12. Kitab al-Buyu’ 13. Kitab al-Rahn 14. Kitab al-Ijarah 15. Kitab al-Nikah 16. Kitab al-Talaq 17. Kitab al-Sadaq 18. Kitab al-Zihar 19. Kitab al-Ila’ 20. Kitab al-Li’an 21. Kitab al-Jirahat 22. Kitab al-Hudud 23. Kitab al-Siyar 24. Kitab al-Qadaya 25. Kitab Qital ahl al-Baghyi 26. Kitab al-‘Itq dan lain-lain Setengah perawi pula telah menyebut bahwa kitab pertama yang dihasilkan oleh Al-Shafi’i adalah di dalam bentuk jawaban dan perdebatan, iaitu satu penulisan yang dituju khas kepada fuqaha’ ahl al-Ra’y sebagai menjawab kecaman-kecaman mereka terhadap Malik dan fuqaha’ Al-Madinah. 

Kenyataan mereka ini berdasarkan kepada riwayat Al-Buwaiti : “Kata Al-Shafi’i : Ashab Al-Hadith (pengikut Imam Malik) telah berhimpun bersama-sama saya. Mereka telah meminta saya menulis satu jawaban terhadap kitab Abu Hanifah. Saya menjawab bahawa saya belum lagi mengetahui pendapat mereka, berilah peluang supaya dapat saya melihat kitab-kitab mereka. Lantas saya meminta supaya disalinkan kitab-kitab itu.Lalu disalin kitab-kitab Muhammad bin Al-Hasan untuk (bacaan) saya. Saya membacanya selama setahun sehingga saya dapat menghafazkan kesemuanya. Kemudian barulah saya menulis kitab saya di Baghdad. Kalaulah berdasarkan kepada keterangan di atas, maka kita pertama yang dihasilkan oleh Al-Shafi’i semasa beliau di Iraq ialah sebuah kitab dalam bentuk jawaban dan perdebatan, dan cara penulisannya adalah sama dengan cara penulisan ahl al-Ra’y. Ini juga menunjukkan bahawa masa penulisannya itu lebih awal dari masa penulisan kitab “Al-Risalah”, iaitu di antara tahun-tahun 184 – 186H. Method Penulisan Kitab-Kitab Qadim Berhubung dengan method penulisan kitab “Al-Hujjah” dan lain-lain belum dapat kita pastikan dengan yakin kerana sikap asalnya tida kita temui, kemungkinan masih lagi ada naskah asalnya dan kemungkinan juga ianya sudah hilang atau rosak dimakan zaman. Walaubagaimanapun ia tidak terkeluar – ini hanya satu kemungkinan sahaja – dari method penulisan zamannya yang dipengaruhi dengan aliran pertentangan mazhab-mazhab fuqaha’ di dalam beberapa masalah, umpamanya pertentangan yang berlaku di antara mazhab beliau dengan Mazhab Hanafi da juga Mazhab Maliki. Keadaan ini dapat kita lihat dalam penulisan kitab “Al-Um” yang pada asalnya adalah kumpulan dari beberapa buah kitab Mazhab Qadimnya. 

Setiap kitab itu masing-masing membawa tajuknya yang tersendiri, kemudian kita itu pula dipecahkan kepada bab-bab kecil yang juga mempunyai tajuk-tajuk yang tersendiri. Di dalam setiap bab ini dimuatkan dengan segala macam masalah fiqah yang tunduk kepada tajuk besar iaitu tajuk bagi sesuatu kitab, umpamanya kitab “Al-Taharah”, ia mengandungi tiga puluh tujuh tajuk bab kecil, kesemua kandungan bab-bab itu ada kaitannya dengan Kitab “Al-Taharah”. Perawi Mazhab Qadim Ramai di antara para sahabatnya di Iraq yang meriwayat fatwa qadimnya, di antara mereka yang termasyhur hanya empat orang sahaja : 
1. Abu Thaur, Ibrahim bin Khalid yang wafat pada tahun 240H. 2. Al-Za’farani, Al-Hasan bin Muhammad bin Sabah yang wafat pada tahun 260H. 3. Al-Karabisi, Al-Husain bin ‘Ali bin Yazid, Abu ‘Ali yang wafat pada tahun 245H. 4. Ahmad bin Hanbal yang wafat pada tahun 241H. Menurut Al-Asnawi, Al-Shafi’i adalah ‘ulama’ pertama yang hasil penulisannya meliputi banyak bab di dalam Ilmu Fiqah. Perombakan Semula Kitab-kitab Qadim Perpindahan beliau ke Mesir pada tahun 199H menyebabkan berlakunya satu rombakan besar terhadap fatwa lamanya. Perombakan ini adalah berpuncak dari penemuan beliau dengan dalil-dalil baru yang belum ditemuinya selama ini, atau kerana beliau mendapati hadis-hadis yang sahih yang tidak sampai ke pengetahuannya ketika beliau menulis kitab-kitab qadimnya, atau kerana hadis-hadis itu terbukti sahihnya sewaktu beliau berada di Mesir sesudah kesahihannya selama ini tidak beliau ketahui. Lalu dengan kerana itu beliau telah menolak sebahagian besar fatwa lamanya dengan berdasarkan kepada prinsipnya : “Apabila ditemui sesebuah hadis yang sahih maka itulah Mazhab saya”. 

Di dalam kitab “Manaqib Al-Shafi’i”, Al-Baihaqi telah menyentuh nama beberapa buah kitab lama (Mazhab Qadim) yang disemak semula oleh Al-Shafi’i dan diubah sebahagian fatwanya, di antara kitab-kitab itu ialah :- 1. Al-Risalah 2. Kitab al-Siyam 3. Kitab al-Sadaq 4. Kitab al-Hudud 5. Kitab al-Rahn al-Saghir 6. Kitab al-Ijarah 7. Kitab al-Jana’iz Menurut Al-Baihaqi lagi Al-shafi’i telah menyuruh supaya dibakar kitab-kitab lamanya yang mana fatwa ijtihadnya telah diubah. Catatan Al-Baihaqi itu menunjukkan bahawa Al-Shafi’i melarang para sahabatnya meriwayat pendapat-pendapat lamanya yang ditolak kepada orang ramai. Walaupun begitu kita masih menemui pendapat-pendapat itu berkecamuk di sana-sini di dalam kitab-kitab fuqaha’ mazhabnya samada kitab-kitab yang ditulis fuqaha’ yang terdahulu atau pun fuqaha’ yang terkemudian. Kemungkinan hal ini berlaku dengan kerana kitab-kitab lamanya yang diriwayatkan oleh Al-Za’farani, Al-Karabisi dan lain-lain sudah tersebar dengan luasnya di Iraq dan diketahui umum, terutamanya di kalangan ulama dan mereka yang menerima pendapat-pendapatnya itu tidak mengetahui larangan beliau itu. Para fuqaha’ itu bukan sahaja mencatat pendapat-pendapat lamanya di dalam penulisan mereka, malah menurut Al-Nawawi ada di antara mereka yang berani mentarjihkan pendapat-pendapat itu apabila mereka mendapatinya disokong oleh hadis-hadis yang sahih. Pentarjihan mereka ini tidak pula dianggap menentangi kehendak Al-Shafi’i, malahan itulah pendapat mazhabnya yang berdasarkan kepada prinsipnya : “Apabila ditemui sesebuah hadis yang sahih maka itulah mazhab saya”. 

Tetapi apabila sesuatu pendapat lamanya itu tidak disokong oleh hadis yang sahih kita akan menemui dua sikap di kalangan fuqaha’ Mazhab Al-Shafi’i :- Pertamanya : Pendapat itu harus dipilih dan digunakan oleh seseorang mujtahid Mazhab Al-Shafi’i atas dasar ia adalah pendapat Al-Shafi’i yang tidak dimansuhkan olehnya, kerana seseorang mujtahid (seperti Al-Shafi’i) apabila ia mengeluarkan pendapat barumya yang bercanggah dengan pendapat lamanya tidaklah bererti bahawa ia telah menarik pendapat pertamanya, bahkan di dalam masalah itu dianggap mempunyai dua pendapatnya. Keduanya : Tidak harus ia memilih pendapat lama itu. Inilah pendapat jumhur fuqaha’ Mazhab Al-Shafi’i kerana pendapat lama dan baru adalah dua pendapatnya yang bertentangan yang mustahil dapat diselaraskan kedua-duanya. Kitab-kitab Mazhab Jadid Di antara kitab-kitab yang beliau hasilkan penulisannya di Mesir atau beliau merencanakannya kepada para sahabatnya di sana ialah :- i. Al-Risalah. Kitab ini telah ditulis buat pertama kalinya sebelum beliau berpindah ke Mesir. ii. Beberapa buah kitab di dalam hukum-hukum furu’ yang terkandung di dalam kitab “Al-Um”, seperti :- a) Di dalam bab Taharah : 
1. Kitab al-Wudu’ 2. Kitab al-Tayammum 3. Kitab al-Taharah 4. Kitab Masalah al-Mani 5. Kitab al-Haid B) Di dalam bab Solah : 6. Kitab Istiqbal al-Qiblah 7. Kitab al-Imamah 8. Kitab al-Jum’ah 9. Kitab Solat al-Khauf 10. Kitab Solat al-‘Aidain 11. Kitab al-Khusuf 12. Kitab al-Istisqa’ 13. Kitab Solat al-Tatawu’ 14. Al-Hukm fi Tarik al-Solah 15. Kitab al-Jana’iz 16. Kitab Ghasl al-Mayyit c) Di dalam bab Zakat : 17. Kitab al-Zakah 18. Kitab Zakat Mal al-Yatim 19. Kitab Zakat al-Fitr 20. Kitab Fard al-Zakah 21. Kitab Qasm al-Sadaqat d) Di dalam bab Siyam (Puasa) : 22. Kitab al-Siyam al-Kabir 23. Kitab Saum al-Tatawu’ 24. Kitab al-I’tikaf e) Di dalam bab Haji : 25. Kitab al-Manasik al-Kabir 26. Mukhtasar al-Haj al-Kabir 27. Mukhtasar al-Haj al-Saghir f) Di dalam bab Mu’amalat : 28. Kitab al-Buyu’ 29. Kitab al-Sarf 30. Kitab al-Salam 31. Kitab al-Rahn al-Kabir 32. Kitab al-Rahn al-Saghir 33. Kitab al-Taflis 34. Kitab al-Hajr wa Bulugh al-Saghir 35. Kitab al-Sulh 36. Kitab al-Istihqaq 37. Kitab al-Himalah wa al-Kafalah 38. Kitab al-Himalah wa al-Wakalah wa al-Sharikah 39. Kitab al-Iqrar wa al-Mawahib 40. Kitab al-Iqrar bi al-Hukm al-Zahir 41. Kitab al-Iqrar al-Akh bi Akhihi 42. Kitab al-‘Ariah 43. Kitab al-Ghasb 44. Kitab al-Shaf’ah g) Di dalam bab Ijarat (Sewa-menyewa) : 45. Kitab al-Ijarah 46. Kitab al-Ausat fi al-Ijarah 47. Kitab al-Kara’ wa al-Ijarat 48. Ikhtilaf al-Ajir wa al-Musta’jir 49. Kitab Kara’ al-Ard 50. Kara’ al-Dawab 51. Kitab al-Muzara’ah 52. Kitab al-Musaqah 53. Kitab al-Qirad 54. Kitab ‘Imarat al-Aradin wa Ihya’ al-Mawat h) Di dalam bab ‘Ataya (Hadiah-menghadiah) : 55. Kitab al-Mawahib 56. Kitab al-Ahbas 57. Kitab al-‘Umra wa al-Ruqba i) Di dalam bab Wasaya (Wasiat) : 58. Kitab al-Wasiat li al-Warith 59. Kitab al-Wasaya fi al-‘Itq 60. Kitab Taghyir al-Wasiah 61. Kitab Sadaqat al-Hay’an al-Mayyit 62. Kitab Wasiyat al-Hamil j) Di dalam bab Faraid dan lain-lain : 63. Kitab al-Mawarith 64. Kitab al-Wadi’ah 65. Kitab al-Luqatah 66. Kitab al-Laqit k) Di dalam bab Nikah : 67. Kitab al-Ta’rid bi al-Khitbah 68. Kitab Tahrim al-Jam’i 69. Kitab al-Shighar 70. Kitab al-Sadaq 71. Kitab al-Walimah 72. Kitab al-Qism 73. Kitab Ibahat al-Talaq 74. Kitab al-Raj’ah 75. Kitab al-Khulu’ wa al-Nushuz 76. Kitab al-Ila’ 77. Kitab al-Zihar 78. Kitab al-Li’an 79. Kitab al-‘Adad 80. Kitab al-Istibra’ 81. Kitab al-Rada’ 82. Kitab al-Nafaqat l) Di dalam bab Jirah (Jenayah) : 83. Kitab Jirah al-‘Amd 84. Kitab Jirah al-Khata’ wa al-Diyat 85. Kitab Istidam al-Safinatain 86. Al-Jinayat ‘ala al-Janin 87. Al-Jinayat ‘ala al-Walad 88. Khata’ al-Tabib 89. Jinayat al-Mu’allim 90. Jinayat al-Baitar wa al-Hujjam 91. Kitab al-Qasamah 92. Saul al-Fuhl m) Di dalam bab Hudud : 93. Kitab al-Hudud 94. Kitab al-Qat’u fi al-Sariqah 95. Qutta’ al-Tariq 96. Sifat al-Nafy 97. Kitab al-Murtad al-Kabir 98. Kitab al-Murtad al-Saghir 99. Al-Hukm fi al-Sahir 100. Kitab Qital ahl al-Baghy n) Di dalam bab Siar dan Jihad : 101. Kitab al-Jizyah 102. Kitab al-Rad ‘ala Siyar al-Auza’i 103. Kitab al-Rad ‘ala Siyar al-Waqidi 104. Kitab Qital al-Mushrikin 105. Kitab al-Asara wa al-Ghulul 106. Kitab al-Sabq wa al-Ramy 107. Kitab Qasm al-Fai’ wa al-Ghanimah o) Di dalam bab At’imah (Makan-makanan) : 108. Kitab al-Ta’am wa al-Sharab 109. Kitab al-Dahaya al-Kabir 110. Kitab al-Dahaya al-Saghir 111. Kitab al-Said wa al-Dhabaih 112. Kitab Dhabaih Bani Israil 113. Kitab al-Ashribah p) Di dalam bab Qadaya (Kehakiman) : 114. Kitab Adab al-Qadi 115. Kitab al-Shahadat 116. Kitab al-Qada’ bi al-Yamin ma’a al-Shahid 117. Kitab al-Da’wa wa al-Bayyinat 118. Kitab al-Aqdiah 119. Kitab al-Aiman wa al-Nudhur q) Di dalam bab ‘Itq (Pembebasan) dan lain-lain : 120. Kitab al-‘Itq 121. Kitab al-Qur’ah 122. Kitab al-Bahirah wa al-Sa’ibah 123. Kitab al-Wala’ wa al-Half 124. Kitab al-Wala’ al-Saghir 125. Kitab al-Mudabbir 126. Kitab al-Mukatab 127. Kitab ‘Itq Ummahat al-Aulad 128. Kitab al-Shurut Di samping kitab-kitab di atas ada lagi kitab-kitab lain yang disenaraikan oleh al-Baihaqi sebagai kitab-kitab usul, tetapi ia juga mengandungi hukum-hukum furu’, seperti :- 
1. Kitab Ikhtilaf al-Ahadith 2. Kitab Jima’ al-Ilm 3. Kitab Ibtal al-Istihsan 4. Kitan Ahkam al-Qur’an 5. Kitab Bayan Fard al-Lah, ‘Azza wa Jalla 6. Kitab Sifat al-Amr wa al-Nahy 7. Kitab Ikhtilaf Malik wa al-Shafi’i 8. Kitab Ikhtilaf al-‘Iraqiyin 9. Kitab al-Rad ‘ala Muhammad bin al-Hasan 10. Kitab ‘Ali wa ‘Abdullah 11. Kitab Fada’il Quraysh Ada sebuah lagi kitab al-Shafi’i yang dihasilkannya dalam Ilmu Fiqah iaitu “al-Mabsut”. Kitab ini diperkenalkan oleh al-Baihaqi dan beliau menamakannya dengan “al-Mukhtasar al-Kabir wa al-Manthurat”, tetapi pada pendapat setengah ulama kemungkinan ia adalah kitab “al-Um”.

PBNU Harus Berani Kontrol PKB



 




Salah satu pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Taufiqurrachman Saleh berharap Pengurus Besar Nahdlatul Ulama IPBNU) turun tangan dalam membesarkan partai yang mengklaim sebagai partainya orang NU (Nahdliyin).
Salah satunya PBNU harus berani mengontrol PKB pasca meninggalnya mantan Ketua Dewan Syuro PKB KH Abdurahman Wahid (Gus Dur).

"Ini memang sulit bagi PBNU, tapi saya kira harus berani. Karena bagaimanapun juga yang berhak membawa-bawa nama NU adalah PBNU, bukan partai." ujar Taufiqurrahman Saleh, di Jakarta, kemarin.Menurut dia. langkah PBNU melakukan kontrol terhadap PKB dimaksudkan dalam rangka mengayomi PKB, mengingat partai tersebut lahir karena NU.

"Begitu pun dengan politisi PKB juga harus berani meminta petunjuk kepada PBNU dalam memperjuangkan kebijakan dan aspirasi warga Nahdliyin." katanya-.Lebih lanjut. Taufiqurrahman sependapat dengan pernyataan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi yang menilai NU hingga kini masih menjadi tempat curhat orang-orang PKB yang kecewa. Sebaliknya, ketika mereka mendapatkan kesenangan, mereka pun lupa terhadap organisasi tempat bernaungnya warga nahdliyin tersebut.

Karena itu. Taufiqurrahman berharap PBNU dapat memaksa para politisi PKB untuk mematuhi kebijakan yang dikeluarkan dalam rangka membesarkan partai."Bentuk pemaksaan ini dalam arti kedua pihak yang berkonflik harus diberikan pilihan kebijakan yang jelas-jelas membesarkan PKB dan sekaligus menyuarakan aspirasi warga nahdliyin." tandasnya,

Muktamar III PKB Gus Dur


Yenny Kembali Ajak Cak Imin Berdamai


Oleh: Novya nur afandi

Sekretaris Jenderal DPP PKB Gus Dur Hafsoh Zanuba Wahid (Yenny Wahid) pada pembukaan Muktamar III, kembali mengajak Ketua Umum DPP versi Ancol Muhaimin Iskandar, untuk kembali duduk bersama membesarkan PKB.

Hal ini disampaikan Yenny saat berpidato pada peringatan satu tahun (haul\ wafatnya KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Pembukaan Muktamar III PKB di Surabaya, Ahad (26/12)

Pasalnya, menurut Yenny Wahid, kondisi partai yang didirikan jamiyah Nahdlatul Ulama (NU) saat ini memperihatinkan. "Berdasarkan hasil berbagai survei, suara PKB tinggal 3 persen. Mari duduk bersama lagi untuk menata PKB ke depan," ujar Yenny di hadapan peserta muktamar di GOR Kertajaya.

Acara didahului tahlil dan doabersama yang dipimpin belasan kyai, diantaranya KH Azis Ma-syhuri, KH Imam Yahya Mahrus, KH Ahmad Muhamad, KH Nawawi, KH Nuril Arifin, Habib Assegaf, KH Ibnu Ubaidillah, dan KH Fawaid Mahrus.

Selepas doa bersama, putri bungsu Gus Dur, Inayah Wahid, berkesempatan membawakan sebuah puisi berjudul "Lelaki Tua". Puisi yang bercerita tentang sosok Ayahnya yang kini seolah tidak pernah dianggap jasa-jasanya oleh PKB versi Muhaimin.

Yenny Wahid dalam pembukaan Muktamar, kembali mengulang pernyataannya, mengajak Muhaimin Iskandar kembali duduk bersama dalam muktamar yang diamanatkan Gus Dur. "Saya tidak cari jabatan dan kekuasaan. Kembalikan marwah Gus Dur yang digusur pada muktamar Ancol," tegas Yenny.

Yenny juga menegaskan dia ti-dak berambisi merebut kekuasaan dari tangan Muhaimin. "Yang terpenting murwah atau kewibaan Gus Dur dikembalikan." Yenny juga berharap Muhaimin tidak berebut legalitas formal. Sebab, selain legalitas hukum, juga ada legalitas politik. "Itu yang lebih pemting karena menyangkut kepercayaan masyarakat."

Adapun Ketua Panitia Muktamar III PKB Imron Rasadi Hamid, menegaskan muktamar yang digelar berjalan lancar dan itu sangat melegakan. Muktamar ini, menurutnya, untuk melaksanakan amanat Gus Dur dan telah mengantongi izin dari Mabes Polri.

"Maka kami mengundang Muhaimin sampai besok (27/12), masih ada waktu membesarkan partai," ujar dia. Diakui dirinya, Muktamar diikuti 2.000 muk-tamirin, terdiri dari 476 cabang dan 33 wiiayah yang siap men-sukseskan muktamar.

Partai Baru

Di tempat sama, pengamat politik dari Indobarometer M Qodari menyarankan agar PKB versi Gus Dur membuat rumah sendiri atau beralih ke rumah lainnya.

"Saat ini, PKB Gus Dur mela-yang-layang. Sebaiknya bergabung ke PPP atau menjadi partai politik baru. Bermetamorfosis-lah,° kata Qodari usai menghadiri pembukaan Muktamar ni PKB.

Dikatakan dia, dengan berubah wujud menjadi partai baru, diyakini akan tetap layak jual, seperti Megawati Soekamoputri yang membentuk partai PDI Perjuangan.

"Dari pada habis energi, Iebih baik bikin partai baru dan bisa masuk dalam sistem. PKB Kalibata jangan sampai jadi seperti Nasional Demokrat, yang tidak bisa apa-apa," kata Qodari.

Pendirian partai baru, kata

Qodari pula, sangat relevan untuk menampung aspirasi jutaan massa fanatik pendukung Gus Dur. Apalagi hingga saat ini tidak ada satu pun partai yang bisa merepresentasikan kebesaran Gus Dur. Magnet politik Gus Dur saat ini belum melekat ke partai manapun. Bahkan PKB versi Muhaimin pun, menurut Qodari, tidak bisa mengklaim membawa ide-ide besar Gus Dur.

Tentang partai baru, Qodari menyarankan tetap menggunakan nama PKB dengan tambahan kata tertentu, misalnya PKB-Perjuangan, atau PKB-Indone-sia. "Pakai nama orang kan nggak boleh. Kalau boleh, ya, pakai PKB-Gus Dur," jelas dia.

Qodari meyakini, jika dimanfaatkan, nama besar Gus Dur akan mampu menjadi magnet yang luar biasa, layaknya magnet Susilo Bambang Yudhoyono ketika memenangi pemilu 2004 lalu.

PBNU Nahdliyin Jangan Polemikkan Gus Dur Wali atau Bukan






 oleh: Novya nur afandi
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengimbau kepada masyarakat, terutama warga nahdliyin untuk tidak mempolemikkan tentang mantan ketua umum PBNU dan juga mantan Presiden RI ke-4. KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) itu wali atau tidak."Di dalam Islam disebutkan bahwa wali itu ada. Tapi seseorang tidak ada kewajiban mengatakan si Pulan itu wali atau tidak. Karena tidak perlu mempolemikkan Gus Dur itu wali atau tidak." ujar Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi, di Jakarta. Minggu (10/1).

Menurut dia. yang tahu persis apakah seseorang itu waliyullah atau tidak adalah yang sesama wali. Sedangkan orang biasa hanya bisa menerka-nerka."Jangankan Gus Dur. saya pun ada yang bilang wali. Kan itu ngawur (kalau saya di bilang sebagai wali)," tandasnya.Lebih lanjut. Hasyim juga mengimbau kepada masyarakat untuk tidak mengambil tanah kuburan (makam) Gus Dur.Orang-orang yang mengambil tanah kuburan Gus Dur harus dicegah karena itu bukan ajaran ahlussunnah wal jamaah.

Hasyim mengakui jika memang saat ini ada fenomena keanehan masyarakat di tingkat bawah. Hal itu dikarenakan masyarakat mengalami stres sosial."Saya kira tindakan aneh itu bukan hanya yang bersangkutan dengan Gus Dur. Ponari (bocah cilik) di Jombang pun di dewa-dewakan. Karena itu saya berharap semua menghormati Gus Dur serta menyebut kebaikan-kebaikannya. Tapi jangan melampaui batas karena bisa merugikan Gus Dur sendiri," ujarnya.Pada bagian lain. Hasyim juga menyinggung soal langkah dan pendapat Gus Dur semasa hidup yang saat dianggap sebagai ajaran Gus Dur pasca meninggalnya almarhum.

Menurut dia. segala langkah dan pendapat yang dilakukan atau di lontarkan Gus Dur tidak perlu disebut sebagai ajaran."Sebut saja langkah dan pendapal-pendapatnya semasa hidup sebagai perjuangan Gus Dur. Karena ajaran buat NU atau kaum muslimin hanya ada satu, yakni ajaran Islam." jelasnya.Begitu juga dengan ahlussunnah wal jamaah. Menurut Hasyim, sesungguhnya bukan merupakan ajaran, melainkan teori pemahaman Islam yang ilmiah dan natural. Dan disebut ahlussunnah dikarenakan adanya persamaan pandangan yang kemudian mengelompok menjadi golongan ahlussunah wal jamaah.

Ringkasan Artikel Ini
Hasyim juga mengimbau kepada masyarakat untuk tidak mengambil tanah kuburan (makam) Gus Dur.Orang-orang yang mengambil tanah kuburan Gus Dur harus dicegah karena itu bukan ajaran ahlussunnah wal jamaah. Hasyim juga menyinggung soal langkah dan pendapat Gus Dur semasa hidup yang saat dianggap sebagai ajaran Gus Dur pasca meninggalnya almarhum. segala langkah dan pendapat yang dilakukan atau di lontarkan Gus Dur tidak perlu disebut sebagai ajaran."Sebut saja langkah dan pendapal-pendapatnya semasa hidup sebagai perjuangan Gus Dur.

Warga NU (nahdliyin) Dilarang Jadi Anggota FPI (Front Pembela Islam)




Walaupun sama sama organisasi massa (Ormas) Islam namun Pengurus Besar Nahdatul Ulama (NU) melarang warga Nahdliyin untuk ikut serta dan menjadi anggota Front Pembela Islam (FPI). Namun demikian Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) menolak usul pembubaran Front Pembela Islam (FPI). Rais Syuriah PB NU Masdar Farid Mas’udi khawatir kalau FPI dibubarkan, justru akan berdampak negatif di kemudian hari.
Kekerasan yang sering dilakukan FPI menjadi alasan Warga NU dilarang ikut serta didalamnya






“Dikhawatirkan kalau (FPI) dipaksa dibubarkan, (itu) akan dijadikan pola untuk pembubaran ormas lain,” kata Masdar saat menerima audiensi Kaukus Pancasila di gedung PB NU, Jl Kramat Raya, Jakarta, KIamis (1/7).

Kaukus tersebut khusus mendatangi PB NU untuk mengajak ikut bersama-sama mendorong pembubaran FPI. Jalurnya melalui pengajuan class action ke pengadilan. “Mungkin itu salah satu pilihan, saran yang baik, tapi menurut kami, tidak menyelesaikan masalah hingga ke akar,” ujar Masdar.

Menurut dia, seandainya pengadilan akhirnya memutuskan pembubaran FPI, organisasi dengan nama berbeda bisa dengan mudah dibentuk.
Salah satu konvoi para anggota FPI








Yang efektif, lanjutnya, cukup dengan menindak orang yang melakukan kekerasan. Tindakan tegas aparat penegak hukum itu setidaknya bisa mencegah terulangnya kejadian serupa di kemudian hari. “Jadi, kita lebih baik menyerukan agar kekerasan yang pernah dilakukan oknum-oknum di FPI tidak dilakukan lagi,” imbaunya.

    Sementara itu, PB NU melarang warga nahdliyin menjadi anggota FPI. “Kami tidak setuju ada kekerasan yang dilakukan ormas atau kelompok masyarakat dengan dalih apa pun,” tutur Masdar.

Kaukus Pancasila itu beranggota sejumlah tokoh masyarakat lintas agama. Mereka secara langsung meminta PB NU ikut masuk ke dalam gerbong yang berencana mengajukan class action pembubaran FPI. Langkah tersebut dilakukan sehubungan dengan insiden di Banyuwangi. FPI di sana sempat memaksa membubarkan forum yang dihadiri sejumlah politisi PDIP dan kelompok masyarakat.

“Kami usul agar PB NU dan organ lain melakukan inisiasi class action untuk membubarkan (FPI) melalui pengadilan,” pinta wakil kaukus yang juga sosiolog UI Thamrin Amal Tomagola. Selain Thamrin, dalam kaukus tersebut ikut Wakil Ketua DPD GKR Hemas, istri Sultan HB X.